.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Kamis, 23 Juni 2016

Salah Fokus

Ada angin ada ujan, tiba-tiba mau ngeblog wkwk

Jadi dalam 1 minggu aku lagi UAS semester 6, UAS terakhir selama jadi mahasiswa D3. InsyaaAllah oktober lulus TKD aamiin.

Tadi itu ujian hari ke 4, besok terakhir, matkulnya monitoring dan evaluasi anggaran.  Agak failed T.T Gara-gara ada soal yang ga pernah diajarin dosenku, mungkin dosen lain ngajarin, tapi dosenku enggaak heuheu. Jadilah tadi banyak bengongnya bingung mau  nulis apaan wkwk. Karna aku ujiannya di gedung G yang isinya ada 6 kelas kebendaharaan negara (bentuknya bukan ruang kelas, tapi semacam gedung serba guna gitu deh), aku jadi ngeliatin orang-orang aja. Ada yang ngeliatin kertas, yang ini kaya aku nih wkwk. Heran sama yang nulis terus, mereka nulis apaaaaan, lha aku? i had no more words to write -_-

Di tengah ketidaktahuan mau nulis apaan, aku secara gak sadar ngeliatin gedung G dari atas ke bawah, dari tribus kiri ke tribun kanan, ke panggung di depan juga. Aku malahan nostalgia. Dulu gedung G adalah awal perkenalan aku sama kampus ini. Di gedung G ini aku urus pendaftaran sampai dengan aku daftar ulang setelah resmi diterima. Aku inget-inget lagi dulu aku pake baju apa, posisiku di mana. Oh man, 3 tahun yang lalu. Waktu masih daftar, aku inget betul aku pernah bilang sama diri aku, 'oh ini stan, tapi aku ga akan di kampus ini, udah di kampus lain', ya semacam itulah pokoknya. Dulu udah cinta sama yang lain. Elah dalah, jodohku ya ternyata kamu itu. Allah tuh Buaiiiikkk Buangetttt, tempatin aku di sini. Belum lulus, tapi aku udah takut kangen sama kehidupan di sini, aktivitas di sini, orang-orang di sini :"

Setelah beberapa lama ngelamunin hal di atas, ngeliat kertas ujian jadi inget lagi ini soal masih belum kejawabbb. Mikir-nulis-mikir-nulis-mikir-nulis. Aslilah semoga dosen aku ini ga ketawa liat jawaban aku yang mengarang ini wkwk. Oke masalah -tentang soal yang yang materinya belum pernah dijelasin- selesai. Masih ada 1 masalah lagi, ada 1 soal yang udah dijelasin, udah ku pelajarin, udah ku hapalin, tapi ada poin yang kelupaaan. Nge-blank. Stuck. T.T
Mencoba mengingat-ingat tapi kok ya ga keinget-inget.
Ujian tadi aku banyak ngeliatin orang, banyak istighfar, ngelamun, kalau inget soal langsung istighfar lagi, banyak nyanyi lagu islami (nyanyi dalam hati tentunya) wkwk

Waktu terus berjalan. Aku punya kebiasaan kalau ujian yaitu keluar di saat-saat terakhir. Jadi aku dari dulu cuma sesekali doang keluar cepet, kalau lagi sakit aja. Selebihnya pasti saat-saat terakhir, bahkan paling terakhir. Bukan karna kalau bingung aja, kalau bisa ngerjainnya pun juga gitu.
Kenapa begitu? Karena aku harus memanfaatkan dengan baik waktu yang udah disediain tersebut. Dari waktu yang 90 menit sampai 150 menit itulah 40% nilai IP ku. Dan aku udah pengalaman banget, walaupun aku udah selesai ngerjain ujian, aku cek ulang terusss, dan kadang ada aja kesalahan atau kekurangan dari jawaban yang aku udah tulis.  Walaupun beberapa orang mikirnya kalau udah gak tau lagi yauda keluar aja mau gimana lagi. Tapi aku lebih milih stay in my place, mengharap pertolongan Allah selalu. Di saat-saat terakhir pun emang kadang dapet ilham tentang jawabannya wkwk.

Dan itu terjadi pada saat tadi!!! Di jawaban yang aku lupa itu! LIMA menit terakhir! Aku udah pasrah ga inget-inget jawabannya, jadi aku mau jawab sesuai pendapatku aja. Ketika aku udah tulis 1baris, masyaAllah tiba-tiba aku inget jawabannya :")
Lima menit terakhir lohhh, aku orang yang keluar terakhir dari orang-orang kelasku. Pengawas yanng ngawas bagian kelasku aja udah gregetan mungkin ya pengen cepet pulang. Soalnya ibunya ngingetin menit-menit terakhir sambil teriak. "lima menit lagiiii.....empat menit lagiiii...."
Tuh kan makanya manfaatin waktu ujian, Kalau aku udah menyerah dari tadi aku mungkin keluar cepet dengan jawaban yang @#$%^%^**&^


Alhamdulillaah...Allahku Maha Penyayang <3 Terima kasih berkah Ramadhan-Mu ya Allah ^^



Jumat, 08 April 2016

Sekilas Tentang Outline

Outline atau proposal KTTA adalah hal marak yang jadi fokus pembicaraan dan fokus pikiran kami 3 minggu terakhir ini.

Outline KTTA itu sama dengan rancangan KTTA yang akan disusun. Di dalamnya harus tercantum konsep rencana daftar isi sampai dengan rencana daftar pustaka KTTA yang kemudian harus disetujui oleh dosen pembimbing. Waktu yang diberikan adalah 3 minggu untuk menyusun outline.

Singkat cerita, penyusunan outline dilalui dengan berjuta rasanya. Bingung, cemas, ga ngerti, galau, bersyukur, lega, deg-degan, gado-gado. Tapi yang pasti memang sudah agak lega karena tahu KTTA ini ke depannya mau dibawa ke mana. Tinggal eksekusi. Jika bagi saya penyusunan outline itu sudah sangat !@#$%^&*() , maka sebenarnya saya pun sadar penyusunan KTTA akan lebih !@#$%^&*())(*&^%$#@!!@#$%^&*().
Walaupun hanya 2 sks, maunya harus maksimal. Harus cepet dikerjain, ga boleh ditunda-tunda (semakin ditunda semakin ga tenang).
*menghela napas*

Baru tadi siang saya mengumpulkan outline rangkap 3 dengan cover belakang warna merah disertai routing slip di gedung A lantai 1.  Berharap segalanya dilancarkan Allah, tidak ada kendala yang berarti, dan memberikan banyak manfaat bagi saya khususnya. Aamiin.

Besok kuliah sabtu abis itu pulang ke bekasi mau ngecassss semangattt.



Mungkin saya akan post cerita perjalanan KTTA kalau KTTA-nya sudah selesai. Karena sepertinya blog ini walau jarang diupdate, tapi akan menjadi sarana rekam jejak perjalanan saya #tsah wk. Tentu KTTA adalah hal yang berarti dalam hidup saya, maka akan saya tulis di blog ini.
Tidak tahu blog ini apakah ada yang baca atau tidak -_- lebih cenderung pengennya gada yang baca -_- trus ngapain ditulis di blog? pengen aja. Kalaupun ada yang baca, semoga bermanfaat, itu aja.

Kamis, 31 Desember 2015

The Last Grade

Dulu ketika awal-awal mengenyam bangku perkuliahan, seringkali mendengar kakak-kakak 2010 yang sudah lulus bilang kalau 3 tahun itu cepet banget. Dulu kalimat itu bagai angin lalu aja, tidak mau memberatkan diri melamunkan benar tidaknya. Ya namanya baru jadi anak kuliahan, pikirannya masih penasaran sama kehidupan kampus.

Seiring waktu berlalu. Ternyata diri ini sudah masuk tahun ketiga jadi mahasiswi. Tapi perasaan baru kemarin masih tingkat 1.. (makanya jangan bawa-bawa perasaan mulu). Tapi ini serius. Saya merasa waktu cepat sekali berlalu. Ternyata saya sudah melewati 5 kali UTS dan 4 kali UAS.

Kalau mengingat-ingat masa-masa ujian, ujian yang paling @#$#$%$#% adalah waktu semester 2. Kenapa?Karena jurusan saya mendapat jatah ujian pukul 08.00. Masih terkenang dengan sangat jelas betapa riweuhnya belajar ketika ujian semester 2 itu. Ketiduran terus T,T Dan terbukti IPK kami (rata-rata anak KBN angkatan 2013) turun, termasuk saya yang IPK-nya bagaikan meluncur dari perosotan. Kami sudah terlanjur dibuat nyaman dengan ujian semester 1 di mana masuk jam 14.00. Ketika tiba-tiba semester 2 jam 8, rasanya seperti mengalami shock culture. #WaktUjianMenentukanIP.

Ya itulah sekilas mengenai ujian.

Bagi saya, yang terasa paling cepat adalah ketika tingkat 2. Kalau kata orang kan ‘waktu terasa cepat ketika sedang bersenang-senang’. Memang ketika tingkat 2 bisa dibilang waktu saya lebih produktif dibandingkan ketika tingkat 1, dari segi akademis maupun organisasi. Saya pun melihat berbagai perubahan dalam diri saya, khususnya dari pola pikir. Mungkin karena tuntutan atau entahlah tapi saya bersyukur akan hal itu.

Tingkat 3. Ya inilah The Last Grade. Setelah saya melewati singkatnya 2 tahun yang sudah saya habisakan di sini, ternyata masa kuliah saya hanya tinggal 1 tahun lagi (malah kurang dari 1 tahun). Sadar akan hal tersebut, saya sudah mantap untuk mengisi sisa masa kuliah saya yang tersisa dengan sebaik-sebaiknya. Karena masa kuliah tidak akan terulang lagi (kuliah ambil D4 atau S1 pasti beda lagi rasanya). Besar keinginan yaitu untuk melakoni peran-peran saya dengan maksimal. Inginnya jadi sebaik-baik manusia, yaitu yang bermanfaat. Inginnya lebih banyak berkontribusi. Inginnya lebih banyak berbagi. Dan tentu inginnya lebih banyak belajar dan tidak menyiakan kesempatan yang ada.

Ketika teman-teman banyak yang memilih vakum dari organisasi, saya berpikir sebaliknya. Saya tetap harus ada aktivitas. Waktu kita hanya diisi oleh 2 hal yaitu hal yang bermanfaat atau sebaliknya. Saya yakin kalau saya tidak punya aktivitas, kemungkinan besar waktu saya akan banyak terbuang sia-sia. Karena begitu saya lulus nanti, saya baru akan menghadapi dunia yang sebenarnya. Dan saya yakin kita butuh banyak bekal untuk bisa beradaptasi dan survive.


Begitulah keinginaan dan harapan dari seorang mahasiswi tingkat akhir -yang tinggal bertemu 1 UTS dan 2 UAS, yang akan menghadapi TKD, yang akan PKL, yang akan lulus dan wisuda, -insyaaAllah. Berdasarkan mata kuliah manajemen proyek yang saya terima, dari semua tahapan manajemen proyek yang paling penting adalah perencanaan. Kita tidak tahu bagaimana masa depan kita. Setidaknya kita berani merencanakan dan mempersiapkan, baik itu dalam skala jangka pendek maupun jangka panjang.



Cerita kakak kelas bahwa 3 tahun selama kuliah itu cepet banget ternyata memang benar.

Jumat, 04 Desember 2015

Mencoba Hal Baru

Karena  hidup ini terlalu singkat kalau kita hanya berkutat pada hal-hal sebatas rutinitas. Gawatnya, kalau kita sudah masuk ranah kejenuhan. Kita juga tentu tidak mau gini-gini aja, ada sumber daya yang belum banyak kita maksimalkan.

Mencoba hal baru, sesederhana kamu menuju kampus dengan rute yang lain dari hari kemarin. Lalu kamu akan bertemu kawan-kawan asing yang mungkin jarang kamu lihat di kampus.

Mencoba hal baru bisa juga meminta lebih banyak hartamu. Pergi ke resto mahal. Lalu kamu akan merasakan makanan dengan level kenikmatan yang berbeda. Yang kamu nikmati dengan sungguh dan perlahan karna sambil mengingat-ingat pengorbanan materiilmu.

Mencoba hal baru bisa juga dengan mengupgrade. Memberi lebih banyak. Biasanya kamu sangat ikhlas atas seribu rupiah, coba hari ini kamu tambah seribu lagi. Lalu mungkin kamu akan sadar rezekimu lebih lancar.

Mencoba hal baru bisa semenarik ketika kamu menjelajah alamNya. Lalu kamu akan lihat Tuhanmu sungguhlah Besar.

Mencoba hal baru bisa terasa asik ketika kamu ternyata menemukan passion. Lalu kamu ketagihan akannya. 

Kalau nyaman dan bermanfaat, bisa dilanjut jadi kebiasaan. Kalau mengecewakan, seenggaknya kita tahu fakta itu setelah mencobanya, dari pada penasaran.

Selama bukan terhadap hal-hal yang dilarang apalagi haram, bolehlah dicoba. Dengannya kita akan tahu dunia lebih luas lagi. Kita akan punya sesuatu untuk diambil hikmah. Kita akan mampu lebih banyak bersyukur. Akan ada banyak hal yang bisa kita ceritakan pada kawan dan keluarga untuk me-warning, menasihati, memberi saran, memberi informasi, juga mengajak pada kebaikan.

Hati-hati cepat tua kalau hidup gitu-gitu aja. Hati-hati tidak mampu bersaing kalau tidak mau menggali potensi di berbagai bidang. Hati-hati tidak punya cerita untuk dikisahkan pada adik, bahkan anak, karena minim pengalaman.


Cuma diri sendiri yang bisa menentukan sebesar apa hal baru yang mau kita coba. Selamat mencoba!

Sabtu, 21 November 2015

Pemeran

Dalam perjalanan hidup yang semakin menua ini, semakin terbuka pula paradigma. Semakin tahu ternyata di dunia ini manusia bisa mengemban banyak sekali peran. Mulai peran baik sampai peran jahat. Semakin dewasa pun akan semakin banyak peran yang mau tidak mau melekat pada diri ini.

Ada satu peran yang belakangan ini memenuhi pikiran saya. Peran ini bukanlah suatu yang baru saya ketahui, melainkan belakangan baru memahami. Peran yang kemudian menerbangkan pikiran saya pada orang-orang hebat pembawa peran tersebut, sebut saja di sini pemeran.

Pemeran-pemeran ini nyatanya sangat dicintai. Tentu bagi orang-orang yang paham betul bagaimana isi peran ini. Saya paham dan saya pun termasuk yang jatuh cinta. 

Kadangkala manusia banyak mengeluh merasa waktu 24 jam tidak cukup memenuhi kebutuhannya sendiri. Namun pemeran nyatanya merelakan sebagian waktunya berbagi dengan orang lain. Dan itu berlaku rutin biasanya pekanan. Apakah pemeran bukan orang yang sibuk? Apakah pemeran tidak punya kegiatan penting lain? Bisa saja bukan pemeran tinggalkan perannya karna alasan lebih ingin bermain dengan anak-anaknya di rumah? 

Bukan hal baru, justru mereka yang diharapkan malah tak bersemangat. Jika tiba saatnya pertemuan, maka keluar berbagai jurus alasan tak bisa hadir. Tugas, kuis, kegiatan lain yang sekedar kumpul haha hihi, ya seputar itu alasannya. Masih mending sih ada alasan, yang lebih gaenak ketika justru sms/whatsap/dll sebatas diread tanpa dibalas. 

Padahal sebenarnya bukan pemeran yang membutuhkannya. Bahkan tidak ada 1 rupiah pun masuk kantung mereka. Tidak akan ada yang memarahi jika ia tinggalkan perannya. Tidak ada yang memaksa agar mereka tetap bertahan. 

Lalu?

Jika bukan karna cinta, bagaimana bisa?  
Jika bukan karna paham urgensinya, bagaimana mungkin sabar?

Cinta pada islam yang membuat mereka semangat menebar kebaikan. Semangat dalam pendidikan dan pembinaan. Keinginan besar menanamkan izzah pada umat islam saat ini. Memang sudah Allah janjikan unta merah, yang dengan begitu logikanya akan banyak orang mengambil peran ini. Tapi kenyataannya praktiknya memang tidak mudah. Sesekali menerima penolakan ketika mengajak kumpul, terkadang satu atau dua orang binaan mundur perlahan. Orang-orang yang awam dengan islam memang butuh disabari untuk dibina, dijadikan generasi robbani, diajak pelan-pelan, dido'akan dengan ikhlas. 

Beruntunglah kita bertemu pemeran-pemeran ini. 



Peran apakah itu..?

Selasa, 10 November 2015

Hidayah

'Andai hidayah dapat ku beli maka akan ku bagikan kepada orang-orang yang aku cintai."  
-Imam Asy-Syafi'i-
Alhamdulillah mungkin saya termasuk yang diberikan hidayah-Nya (aamiin). Bukan sombong bukan, tapi bersyukur, segala puji hanya bagi Allah. Hidayah bukan berarti seketika langsung ekspert jadi sholihah/ustadzah, bukan. Tapi mendapat hidayah lebih mengarah pada hati yang mau diajak pada kebenaran.

Orientasi hidup kini lebih banyak pada akhirat. Sekarang menjadi umat yang memikirkan agama-Nya. Ada hasrat ingin berdakwah (dakwah=menyampaikan), berbagi pada yang belum paham. Ya walaupun ilmu masih teramat dikit, tapi sungguh ingin seperti sahabat-sahabat yang sholihah nan inspiratif itu. Sekali lagi segala puji hanya bagi Allah.

Ketika cahaya hidayah mulai mengisi hati-hati ini, ternyata masih terselip satu sedih. Sedih dimana cahaya itu belum menyentuh hati-hati orang terdekat. Hati-hati orang tercinta. Saya sangat setuju dengan quote di atas T.T Besar keinginan melihat orang-orang di sekitar sama-sama melangkah dalam hidayah-Nya.

Nikmat iman dan hidayah tiada lain hanyalah hak prerogatif Allah. Seorang Nabi Muhammad pun tidak bisa membuat pamannya, Abu Tholib, mengucap syahadat hingga ajal menjemputnya. Apalagi umat yang nulis postingan ini.

Kiranya kita, manusia, hanya diperintahkan untuk menyampaikan, mengajak, mengingatkan. Bukan tugas kita mengubah seseorang jadi baik. Urusan sebesar itu adalah urusan Allah. Allah yang akan gerakkan hati makhluk-Nya. Tentu jangan lupa kita sertakan do'a selalu untuk kebaikan kita semua.



Tulisan ini bukan ditulis oleh orang yang sudah amat baik, tapi oleh orang yang ingin menuju kebaikan dan kebenaran bersama dengan orang-orang yang dicintai.

Selasa, 27 Oktober 2015

Capresma 2015-2016

Pada sore hingga menyinggung sedikit malam tadi, rasanya tidak sia-sia saya gunakan waktu saya untuk menghadiri suatu acara kampus yang hanya ada satu tahun sekali. Acara debat publik Capresma-Cawapresma BEM. Adalah menampilkan 3 pasang calon pemimpin yang kiranya berusaha merebut hati-hati para mahasiswa. Sayang sungguh sayang saya haturkan untuk teman-teman yang tidak hadir, hilang 1 kesempatan emas mengenal lebih dalam lagi siapa calon pemimpinnya.

Saya sendiri hadir dalam kondisi sudah dengan mendukung 1 pasang calon. Namun yang terjadi pada malam ini adalah di luar ekspektasi saya. Saya menyaksikan seorang pemimpin hebat dengan kompetensi yang mumpuni. Pemimpin yang semangat kontribusinya sangat kental. Yang interaktif dan mampu menggerakkan massa melalui tiap bait pilihan kata yang diucapkannya. Saya sudah sedikit kenal dengan calon presma ini. Pesannya: 'di Pemira kita harus gembira'. Beliau paham benar suasana pemilihan raya. Jatuh-menjatuhkan sudah jadi bumbunya. Tapi beliau bilang itu sudah kuno, bukan zamannya, maka itu kami harus gembira di pemira. Tidak peduli  calon seberang memanasi, kita happy aja. See? Seorang pemimpin yang akhlaknya baik juga humble dan religius.

Jikalau kalian awam dan lihat rangkaian debat tadi, 99% saya yakin tepuk tangan paling meriah akan kalian persembahkan untuk pemimpin ini. Saya sudah sebut beliau pemimpin karena sebelumnya beliau pernah menjadi wapresma semasa pendidikan D3-nya serta memang sifat pemimpin yang melekat erat pada beliau.

Seorang pemimpin yang bisa dirasakan ketulusannya ingin kampus yang lebih baik. Jika tidak terpilih, akan setia mendukung dan menyumbangan ide-ide kreatifnya. Pemimpin yang sederhana tapi sangat cerdas.Tidak segan mampu meninggikan lawan hingga akhirnya mereka turut mengakui kelebihan beliau.

Yang terjadi pada malam ini meyakinkan saya juga tentu mengetuk hati kecil pendukung pasangan lain bahwa pemimpin yang seperti beliau memang layak dipilih.

Sekali lagi saya amat menyayangkan teman-teman yang tidak hadir. Lalu dari mana kalian akan memutuskan pilihan? Tolong jangan hanya sekedar lihat fisik apalagi hubungan relasi. Pilih seobjektif mungkin. Pilih yang paling berkualitas. Karena kitapun akan dimintai pertanggungjawaban  olehNya atas pilihan yang kita tentukan.

#3 November untuk nomor #3

Berikut kalimat pembuka dari Mas Heru pada acara debat publik tadi, dikutip dari Hasan Al Banna yang dibawakan dengan sangat apik dalam semangat membaranya