.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}
Tampilkan postingan dengan label Islam Itu Indah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam Itu Indah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 November 2018

Sedekah Jariah


Ini Al-Qur'an yang kupakai sampai sekarang. Pemberian seorang sahabat ketika kuliah dulu. Begitu ku cerita Al-qur'an ku ketinggalan di rumah, dengan semangatnya dia menawarkan diri untuk beliin yang baru. Aku diajak ke tempat beli Al-Qur'an, pilih sendiri. Seneng ga? seneng laah alhamdulillah..

Tapi ini sahabat saya cerdas juga. Dia berbuat baik sebenernya akan balik ke dirinya. Kalau ku ngaji pakai Al-Qur'an pemberian dia, otomatis dia dapet pahala juga :D kereeen! Udah 5 tahunan ku pakai Al-Qur'an ini cuy. Namanya sedekah jariah. Dia ga ngapa-ngapain, tapi dapet pahala..

Udah aja ku jadi terinspirasi kan. Aku beliin juga adik tingkat Al-Qur'an kebetulan dia belum punya. Wah, sahabatku dapet pahala lagi karena mencontohkan kebaikan, mantabss.

Makanya, kalau ada broadcast-broadcast iklan wakaf Al-Qur'an, itu juga kesempatan banget buat kitaa.. Apalagi kalau Al-Qur'annya dipake untuk calon-calon hafidz😁

Minggu, 11 November 2018

Dalam Lingkaran Cinta Itu..

Kemarin di kantor di Medan sana aku melihat 5 orang wanita melingkar di masjid, 1 nya berbicara, menerangkan materi sabar kalau ku tidak salah dengar

Aku hendak sholat ashar saat itu
Melihat lingkaran itu aku teringat sesuatu
Ku teringat lingkaranku, lingkaran semasa ku kuliah dulu, lingkaran cinta..

Setiap pekannya entah weekend atau kamis malam, kami berkumpul. Di masjid kampus tercinta atau di rumah murobbi kami. Kami bersepuluh, duduk melingkar, siap mendengar materi dan belajar.

Sebenarnya aku tidak mempedulikan masalah golongan atau apapun. Tapi yang ku dapatkan dan rasakan adalah bersyukur. Bersyukur atas nikmat ilmu dan nikmat teman-teman shalihah.  Di lingkaran itu kami berbagi cerita, keresahan, kebingungan, dan saling menguatkan ketika ada yang futur. Aku pribadi sangat terbantu dengan kegiatan tiap minggu ini. Saat mulai malas, lalu melihat mereka yang bersemangat, hati ikut tertular semangat. Punya teman yang sama-sama mau dateng kajian, juga menambah semangatt. Dipicu untuk punya hapalan. Dinasihati yang baik-baik.

Di lingkaran itu aku merasakan cinta. Cinta sesama muslim kepada saudaranya.
Di lingkaran cinta itulah kami men-charge ruhiyah kita yang satu minggunya sudah tertumpuk masalah-masalah duniawai.

Wanita-wanita ini adalah yang aku minta dulu ketika lulus kuliah entah diterima kampus mana, yang aku do'akan, do'a agar aku ditempatkan di tempat yang baik, yang bisa mendekatkan diri pada-Nya, didekatkan dengan teman-teman shalihah.. Maha Baik Allah.. T.T

Kangen euyy sama mereka. Beberapa sudah menikah dan sedang hamil :D

Sekarang sudah terpisah-pisah. Yang jabodetabek saja jarang bertemu. Semoga nanti bisa melingkar lagi bahkan di surga-Nya aamiin

Sekarang masing-masing sudah punya lingkarannya sendiri, di tempat barunya. Karena kami sadar kami sangat butuh charge semacam ini. Alhamdulillah lingkaranku di kantor biasanya senin siang saat istirahat, tapi tentu tidak segreget dahulu saat kuliah karena kalau sudah ada di dunia kerja seringkali tidak bisa rutin hadir, murobbinya pun mbak-mbak yang masyaaAllah sibuk juga :D
Semoga Allah memudahan urusan kita apalagi urusan kebaikan...

Selasa, 10 November 2015

Hidayah

'Andai hidayah dapat ku beli maka akan ku bagikan kepada orang-orang yang aku cintai."  
-Imam Asy-Syafi'i-
Alhamdulillah mungkin saya termasuk yang diberikan hidayah-Nya (aamiin). Bukan sombong bukan, tapi bersyukur, segala puji hanya bagi Allah. Hidayah bukan berarti seketika langsung ekspert jadi sholihah/ustadzah, bukan. Tapi mendapat hidayah lebih mengarah pada hati yang mau diajak pada kebenaran.

Orientasi hidup kini lebih banyak pada akhirat. Sekarang menjadi umat yang memikirkan agama-Nya. Ada hasrat ingin berdakwah (dakwah=menyampaikan), berbagi pada yang belum paham. Ya walaupun ilmu masih teramat dikit, tapi sungguh ingin seperti sahabat-sahabat yang sholihah nan inspiratif itu. Sekali lagi segala puji hanya bagi Allah.

Ketika cahaya hidayah mulai mengisi hati-hati ini, ternyata masih terselip satu sedih. Sedih dimana cahaya itu belum menyentuh hati-hati orang terdekat. Hati-hati orang tercinta. Saya sangat setuju dengan quote di atas T.T Besar keinginan melihat orang-orang di sekitar sama-sama melangkah dalam hidayah-Nya.

Nikmat iman dan hidayah tiada lain hanyalah hak prerogatif Allah. Seorang Nabi Muhammad pun tidak bisa membuat pamannya, Abu Tholib, mengucap syahadat hingga ajal menjemputnya. Apalagi umat yang nulis postingan ini.

Kiranya kita, manusia, hanya diperintahkan untuk menyampaikan, mengajak, mengingatkan. Bukan tugas kita mengubah seseorang jadi baik. Urusan sebesar itu adalah urusan Allah. Allah yang akan gerakkan hati makhluk-Nya. Tentu jangan lupa kita sertakan do'a selalu untuk kebaikan kita semua.



Tulisan ini bukan ditulis oleh orang yang sudah amat baik, tapi oleh orang yang ingin menuju kebaikan dan kebenaran bersama dengan orang-orang yang dicintai.

Jumat, 14 Maret 2014

Revolusi Diri

"Revolusi itu membutuhkan rasa sakit" - Mayor Jenderal Anumerta D.I. Pandjaitan
Melihat pada quote di atas. saya sependapat dengan salah satu pahlawan revolusi Indonesia tersebut. Karena jalan revolusi itu tidak mulus, penuh kerikil. Seperti yang kita tahu revolusi itu menuju pada kehidupan yang lebih baik dan dalam waktu yang tidak lama, begitulah singkatnya.

Hal itu pula yang terjadi pada Revolusi Diri. Seseorang yang dengan kesadarannya ingin merevolusi dirinya, tidak bisa dipungkiri akan bertemu berbagai rintangan. Bayang-bayang kehidupan yang ingin ditinggalkan terkadang masih sering ditengok. Ya mungkin itu godaan setan. Setan yang mencoba merayu manusia dalam proses memperbaiki dirinya. Misal saja seorang wanita yang mulai menhijabkan kepalanya dan memperbaiki penampilannya, terkadang ada semomok perasaan aneh, takut, atau bahkan tidak nyaman. Kalau saja niatnya tidak sekuat baja mungkin amalan hijabnya tidak menyeluruh atau tidak sesuai syariat yang telah ditentukan. Kita tahu setan tidak akan berhenti menggoda manusia. Ada saja cara mereka menjerumuskan kita. Kalau mereka tidak berhasil membuat wanita meninggalkan perintah mengenakan hijab, mereka menuntun wanita meninggalkan hijab syar'inya. Naudzubillahi min dzalik.

Sakitnya revolusi diri makin terasa saat lingkungan sekitar kita tidak menghargai bahkan tidak mendukung. Sadar tidak sadar, lingkungan memiliki andil dalam cara kita mengekspresikan diri. Lingkungan buruk jelas tidak menghendaki perubahan pada diri kita yang berlawanan dengan mereka. Pada lingkungan yang 'biasa-biasa saja' -tidak terlalu acuh pada perubahan kita- itu juga kurang kondusif. Revolusi terus berjalan tidak ada kata henti. Karena manusia tidak pernah sempurna bukan, itulah alasan manusia harus terus belajar memperbaiki diri. Untuk itu jangan ragu untuk cari lingkungan baik, dimana setiap perkataannya, kegiatannya, mengundang keberkahan. Semoga Allah tempatkan hambaNya yang ingin berevolusi di sebaik-baik tempat.

Revolusi butuh perjuangan. Perjuangan menggapai ridhoNya memang berat kawan. Jangan bosan-bosan minta untuk diistiqomahkan. Sudah tertakdir iman seorang manusia ada saatnya naik dan ada juga saatnya turun. Yang bahaya adalah jika turunnya iman yang terlalu lama. Semoga kita tidak larut dan terbuai dalam labilnya iman. Kalau dirasa kita menjauhi cita-cita istiqomah kita, ingat-ingat lagi alasan revolusi diri yang kita niatkan. Suatu saat insyaAllah kita akan merasakan manisnya iman yang hakiki. Aamiin Allahuma aamiin :')